Proses Terbentuknya Batuan

Batuan beku merupakan batuan yang berasal dari hasil proses pembekuan magma.igneous berasal dari kata ignis yang berarti yang berarti api atau pijar,karena magma merupakan material silikat yang panas dan pijar yang terdapat di dalam bumi. Magma merupakan material silikat yang sangat panas yang terdapat di dalam bumi dengan temperatur berkisar antara 600 ̊C samapai 1500 ̊C.

Magma disusun oleh bahan yang berupa gas (volatil) seperti H2O dan CO2,dan bukan gas yang umumnya terdiri dari Si, O, Fe, Al, Ca, K, Mg, Na, dan minor element seperti V, Sr, Rb, dll. Magma terdapat dalam rongga di dalam bumi yang di sebut dapur magma (magma chamber).Karena magma relatif lebih ringan dari batuan yang ada di sekitarnya, maka magma akan bergerak naik ke atas. Gerakan dari magma ke atas ini kadang-kadang di sertai oleh tekanan yang besar dari magma itu sendiri atau dari tekanan disekitar dapur magma, yang menyebabkan terjadinya erupsi gunung api. Erupsi gunung api ini kadang-kadang hanya menghasilkan lelehan lava atau disertai dengan letusan yang hebat(eksplosif).

Proses pembentukan batuan beku

Proses pembentukan batuan beku.

Lava merupakan magma yang telah mencapai permukaan bumi, dan mempunyai komposisi yang sama dengan magma,hanya kandungan gasnya relatif lebih kecil.lava yang membeku akan menghasilkan batuan beku luar(ekstrusif) atau batuan volkanik. Magma yang tidak berhasil mencapai permukaan bumi dan membeku da dalam bumi akan membentuk batuan beku dalam (intrusif) atau batuan beku plutonik.

Proses Kristalisasi Magma
Karena magama merupakan cairan yang panas, maka ion-ion yang menyusun magma akan bergerak bebas tak beraturan. Sebaliknya pada saat magma mengalami pendinginan, pergerakan ion-ion yang tidak beraturan ini akan menurun,dan ion-ion akan mulai mengatur dirinya menyusun bentuk yang teratur. Proses ini di sebut kristalisasi.pada proses ini yang merupakan kebalikan dari proses pencairan,ion-ion akan saling mengikat satu dengan yang lainnya dan melepaskan kebebasan untuk bergerak.ion-ion tersebut akan membentuk ikatan kimia dan membentuk kristal yanmg teratur.pada umumnya material yang menyusun magma tidak membeku pada waktu yang bersamaan.

Kecepatan pendinginan
Magma akan sangat berpengaruh terhadap proses kristalisasi, terutama pada ukuraan kristal apabila pendinginan magma berlangsung denagan lambat, ion-ion mempunyai kesempatan untuk mengembangkan dirinya, sehingga akan menghasilkan bentuk kristal yang besar. Sebaliknaya pada pendingan yang cepat, ion-ion tersebut tidak mempunyai kesempatan untuk mengembangkan dirinya sehingga akan menbentuk kristal yang kecil. Apabila pendinginan berlangsung sangat cepat maka tidak ada kesempatan bagi ion untuk menbentuk kristal, sehingga hasil pembekuan nya akan menghasilkan atom yang tidak beraturan (hablur), yang dinamakan dengan mineral glass.

Pada saat magma mengalami pendinginan, atom-atom oksigen dan silikon akan saling mengikat pertama kali untuk membentuk tetrahedra oksigen-silikon. Kemudian tertrahedra-tetrahedra oksigen silikon tersebut akan saling bergabung dan dengan ion-ion lainnya akan membentuk inti kristal dari bermacam mineral silikat. Tiap inti kristal akan tumbuh dan membentuk jaringan kristalin yang tidak berubah. Mineral yang menyusun magma tidak terbentuk pada waktu yang bersamaan atau pada kondisi yamg sama. Mineral tertentu akan mengkristal pada temperatur yang lebih tingi dari mineral lainya, sehingga kadang-kadang magma mengandung kristal-kristal padat yang dikelilingi oleh material yang masih cair.

Komposisi dari magma dan jumlah kandungan bahal folatil juga mempengaruhi proses kristalisasi. Karena magma dibedakan dari faktor-faktor tersebut, maka kenampakan fisik dan komposisi mineral batuan beku sangat bervariasi. Dari hal tersebut, maka penggolongan batuan beku dapat didasarkan pada faktor-faktor tersebut diatas. Kondisi linkungan pada saat kristalisasi dapat diperkirakan dari sifat dan susunan dari butiran mineral yang biasa disebut tekstur. Jadi klasifikasi batuan beku sering didasarkan pada tekstur dan komposisi mineralnya.

Tekstur Batuan Beku
Tekstur pada batuan beku digunakan untuk menggambarkan kenampakan batuan yang didasarkan pada ukuran (sifat) dan susunan kristal-kristal penyusun batuan beku.tekstur merupakan ciri yang sangat penting,karena tekstur dapat menggambarkan kondisi proses pembentukan batuan beku.kenampakan ini memungkin ahli geologi untuk mengetahui kejadian batuan beku di lapangan.

Tekstur terpenting yang mempengaruhi tekstur batuan beku adalah tingkat kecepatan pembekuan magma. Pembekuan magam yang lambat akan menghasilkan butir- butir kristal yang besar. Proses ini terjadi pada magma yang terdapat jauh di bawah permukaan bumi atau material yang di semburkan oleh gunung api pada saat erupsinya,akan mengalami pembekuan yang sangat cepat.

Batuan beku yang terbentuk pada atau dekat dengan permukaan bumi akan menunjukkan tekstur yang berbutir halus yang disebut afanitik.butiran mineral pada batuan beku afanitik sangat kecil, sehingga sangat sulit dibedakan janis mineralnya dengan mata biasa. Meskipun jenis mineralnya sulit di tentukan karena ukurannya yang sangat halus, tetapi batuan ini dapat dicirikan oleh warnanya yang sangat terang,menengah atau gelap. Batuan beku afanitik yang berwarna terang terutama di susun oleh mineral non ferromagnesian silicate, sedangkan batuan beku afanitik yang berwarna gelap di susun oleh mineral-mineral feromagnesian silikat.

Kenampakan yang umum pada batuan beku afanitik adalah adanya lubang-lubang bekas keluarnya gas yang bentuknya membundar atau memanjang yang di sebut vesikuler,dan umumnya terdapat pada bagian luar dari aliran lava. Batuan beku yang terbentuk jauh di bawah permukaan akan menghasilkan tekstur butiran yang kasar,yang disebut feneritik, tekstur ini menunjukan butiran yang kasar dan relatif sama besar,serta mineral-mineralnya dapat dibedakan dengan mata biasa tanpa bantuan alat pembesar.batuan beku feneritik ini karena terbentuk jauh di bawah permukaan, maka batuan ini ini akan muncul kepermukaan setelah batuan yang menutupinya mengalami proses erosi.

Massa magma yang besar yang terletak jauh di kedalaman bumi,membutuhkan waktu yang cukup lama untuk proses pembekuannya, puluhan ribu tahun atau bahkan jutaan tahun.karena semua mineral dalam semua mineral dalam magma tidak mengkristal pada waktu yang bersamaan,maka akan memungkinkan untuk beberapa mineral membentuk kristal-kristal yang cukup besar. Jika magma yang mengandung beberapa kristal besar mengalami perubahan kondisi lingkungannya, maka sisa dari magma akan mengalami pembekuan yang sangat cepat sehingga menghasilkan butiran kristal yang halus. Batuan yang di hasilkan akan menunjukkan kristal-kristal kasar dikelilingi atau tertanam pada matrik dari kristal-kristal yang berbutir halus. Kristal-kristal yang besar disebut fenokris, sedang matrik kristal-kristal yang kecil disebut masa dasar. Batuan beku yang mempunyai tekstur semacam ini disebut batuan beku porfir(porphyry).

Pada beberapa aktifitas gunung api,magma yang setengah padatakan di lemparkan ke atmosphera dan akan mengalami pembekuan yang sangat cepat.pembekuan yang sangat cepat ini akan menghasilkan tekstur gelas(glass) Bbatuan yang mempunyai tekstur semacam ini adalah obsidian.

Meskipun kecepatan pembekuan magma merupakan faktor yang utama pembentuk tekstur batuan beku, faktor lain yang juga penting pengaruhnya terhadap pembekuan tekstur adalah komposisi magma.magma basaltik yang bersifat encer, umumnya akan membentuk batuan kristalin apabila mengalami pembekuan yang cepat pada aliran tipis lava. Pada kondisi yang sama, magma granitik yang umumnya lebih kental, akan lebih memungkinkan untuk membentuk batuan dengan tekstur gelas.akibatnya batuan lelehan lava yang banyak disusun oleh gelas volkanik mempunyai komposisi granitk. Sebaliknya lelehan lava basaltik yang mengalir di laut, bagian permukaannya akan mengalami pembekuan yang sangat cepat sehingga menghasilkan lapisan tipis mineral gelas.

Beberapa batuan beku dibentuk dari konsolidasi fragmen batuan yang berasal dari erupsi gunung api.material yang di keluarkan biasanya berupa debu volkanik yang sangat halus, lapili atau bongkah besar yang berbentuk menyudut yang memungkinkan berasal dari batuan dinding sekitar kawah yang di lemparkan pada saat erupsinya.batuan beku yang di susun oleh fragmen batuan semacam ini disebut bertekstur piroklastik.

Kenampakan yang umum dari batuan piroklastik adalah di susun oleh glass shard.batuan piroklastik lainya di susun oleh fragmen-fragmen batuan yang tersemen bersama-sama beberapa waktu kemudian.karena batuan piroklastik ini di bentuk dari individual fragmen, maka teksturnya kadang-kadang sama dengan tekstur batuan sedimen daripada batuan beku.

Komposisi Mineral
Mineral-mineral yang membentuk batuan beku di determinasi oleh komposisi kimia magma darimana mineral-mineral tersebut mengkristal.seperti halnya batuan beku yang telah di ketahui mempunyai variasi yang sangat besar,maka dapat pula di asumsikan bahwa macam magmapun mempunyai variasi yang besar pula.pada ahli geologi telah mendapatkan bahwa satu gunung api mempunyai tingkat erupsi yang bervariasi kadang-kadang mengeluarkan lava yang mempunyai mineral yang berbeda,terutama pada gunung api yang mempunyai periode letusan cukup lama.dari hal tersebut dapat dikatakan bahwa magma yang sama kemungkinan dapat menghasilkan kandungan mineral yang berfariasi.

N.l.bowen merupakan seorang ahli yang pertama kali melakuakan penyelidikan terhadap proses kristalisasi magma pada awal abad ke 20 ini. Hasil penyelidikan bowen di laboratorium menunjukkan bahwa mineral tertentu akan mengkristal pertama kali. Dengan penurunan temperatur,mineral lain akan mulai mengkristal, sejalan dengan proses pengkristalan dari magma, komposisi dari magma yang tersisa selalu mengalami perubahan juga. Sebagai contoh ,pada saat magma telah mengalami pembekuan kira-kira 50%, magma yang tersisa akan mengalami penurunan kandungan unsur-unsur besi, magnesium dan kalsium, karena unsur-unsur ini di jumpai pada mineral-mineral yang terbentuk pertama kali. Tetapi pada saat yang bersamaan, komposisi magma lebih di perkaya oleh kandungan unsur-unsur yang banyak terkandung dalam mineral-mineral yang terbentuk kemudian, seperti unsur-unsur sodium dan potasium. Demikian juga kandungan silikon dalam larutan magma semakin bertambah pada proses kristalisasi berikutnya.

Bowen juga menunjukkan bahwa mineral-mineral yang telah mengkristal dan masih terdapat dalam lingkungan magma yang masih cair akan bereaksi dengan sisa cairan magma dan menghasilkan mineral berikutnya. Oleh sebab itu susunan atau urutan proses kristalisasi mineral dikenal dengan nama Bowen’s Reaction Series. Pada bagian kiri dari susunan ini olivine yang merupakan mineral pertama yang terbentuk, akan bereaksi dengan cairan magma dan membentuk piroksin. Reaksi ini akan terus berlangsung sampai mineral yang terakhir dalam seri ini yaitu biotit, terbentuk. Susunan sebelah kiri ini disebut sebagai Discontinoues Reaction Series, karena tiap mineral yang terbentuk mempunyai struktur Kristal yang berbeda. Olivin disusun oleh tetrahera tunggal, dan mineral lain pada seri ini disusun oleh rangkaian rantai tunggal, rantai ganda, dan struktur lembaran. Pada umumnya reaksi yang terjadi tidak sempurna sehingga mineral-mineral yang bervariasi ini akan hadir pada saat yang bersamaan.

Pada susunan bagian kanan reaksi berlangsung terus menerus. Minerla yang pertama kali terbentuk adalah mineral feldspar yang kaya akan kalsium( Ca – feldspar ) bereaksi dengan ion-ion sodium (Na) yang semakin meningkat persentasenya di dalam magma. Kadang kala kecepatan pendinginan berlangsung sangat cepat sehingga menghambat perubahan yang sempurna dari kalsium feldspar menjadi sodium feldspar. Bila hal ini terjadi zoning pada mineral feldspar diamana kalsium feldspar dibagian intinya dikelilingi oleh sodium feldspar.

Pada proses kristalisasi, setelah magma mengalami pembekuan, sisa magma akan membentuk mineral kuarsa, muskovit dan potas feldspar(ortoklas). Meskipun mineral- mineral yang terakhir disebutkan terdapat dalam urutan Bowen’s Reaction Series,tetapi bagian ini tidak benar-benar merupakan reaction series.

Bowen menunujukan proses kristalisasi mineral dari magma sistematis, tetapi bagaimana Bowen reaction series dapat menceritakan kkeanekaragaman dari batuan beku?pada suatu tingkat proses kristaslisasi magma,bagian yang telah mengkristal lebih dulu(padat) akan selalu memisahkan diri dari bagian yang cair. Hal semacam ini, dapat terjadi karena mineral-mineral yang mengkristal lebih dahulu akan lebih berat daripada bagian magma yang masih mencair,sehingga mineral tersebut akan turun ke bawah dan terkonsentrasi padadapur magma. Proses pengendapan ini terjadi secara bertahap mulai dari mineral-mineral gelap seperti olivine. Bilamana sisa dari magma kemudian mengkristal baik di tempat tersebut, ataupun di tempatnya yang baru karena mengalami migrasi dari dapur magma, maka akan terbentuk batuan beku dengan komposisi yang berbeda dengan komposisi magma asal.

Proses segregasi mineral oleh pemisahan dan diferensiasi kristalisai disebut fraction series crtistallization (kristalisasi koraksional). Pada tiap tingkatan dari proses kristalisasi,cairan magma terpisah dari bagian magma yang telah padat. Akibatnya kristalisasi fraksional akan menghasilkan batuan beku dengan rentang komposisi yang cukup lebar.

Bowen berhasil menunjukkan bahwa melalui proses kristalisasi fraksional, satu jenis magma dapat menghasilkan beberapa batuan beku.Tetapi penelitian yang baru lebih menunjukkan bahwa proses kristalisasi fraksional saja tidak cukup untuk menjelaskan keanekaragaman batuan beku yang diketahui. Meskipun lebih dari 1 macam batuan beku dapat membentuk dari satu jenis magma,tetapi masih ada mekanisme yang lain yang dapat menghasilkan magma dengan komposisi yang masih beragam.

Penamaan Batuan Beku
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya,batuan beku diklasifikasikan atau dikelompokan berdasarkan tekstur dan komposisi mineralnya. Tekstur batuan beku dihasilkan oleh perbedaan proses pembekuannya, sedangkan komposisi mineral batuan beku sangat tergantung pada komposisi kimia magma dan kondisi lingkungan proses kristalisasinya. Dari hasil penelitian Bowen,mineral yang mengkristal pada kondisi yang sama akan menyusun batuan beku yang sama pula. Sehingga dapat dikatakan bahwa klasifikasi batuan beku sangat bergantung pada Bowen’s Reaction Series .

Mineral-mineral yang pertama mengkristal, Ca feldspar, piroksin, dan olivin e,merupakan mineral yang kandungannya Fe, Mg, dan Ca-nya tinggi dan kandungan Si rendah. Basalt merupakan batuan beku ektrusif dangan komposisis mineral-mineral
tersebut, tetapi istilah basaltic (basalan) digunakan untuk batuan beku dengan tipe seperti Basalt. Mengacu pada kandungan Besinya, batuan beku Basaltik dicirikan oleh warnanya yang gelap dan sedikit lebih berat dibandingkan dengan batuan beku lainnya yang dijumpai di permukaan.

Diantara mineral-mineral yang terakhir mengkristal adalah mineral potas feldspar dan kuarsa. Batuan beku yang mempunyai komposisi mineral didominasi oleh mineral- mineral tersebut disebut dengan tipe granitic. Batuan beku menengah (intermediate) disusun oleh mineral-mineral yang terdapat di bagian tengah dari Bowen’s Reaction Series. Amfibol bersama dengan plagioklas menengah merupakan mineral-mineral utama yang menyusun batuan beku tipe ini. Batuan beku yang mempunyai komposisi diantara granit dan basalt disebut sebagai tipe andesitic.

Bagaimana Batuan Beku Terbentuk?

Tabel batuan beku yang dijumpai

Meskipun tiap kelompok batuan beku disusun oleh mineral utama yang terletak pada daerah tertentu dari Bowen’s Reaction Series, tetapi terdapat juga mineral tambahan yang jumlahnya tidak begitu banyak. Sebagai contoh, batuan beku granatik terutama tersusun oleh mineral kuarsa dan potas feldspar (K-feldspar), tetapi kadang-kadang juga dijumpai mineral muskovit, biotit,amfibol dan sodium feldspar (Na-feldspar) dalam jumlah yang sedikit sebagai mineral tambahan.

Selain tiga kelompok batuan beku seperti yang telah diuraikan di atas, terdapat juga batuan beku yang mempunyai komposisi diantara ketiga kelompok batuan beku tersebut. Sebagai contoh, batuan beku intrusive yang disebut granodiorit, disusun oleh mineral-mineral yang menyusun batuan beku granatik dan batuan beku andesitic. Batuan beku lain yang cukup penting tersebut adalah peridotit, yang komposisi mineral utamanya terdiri dari olivine. Batuan beku ini termasuk batuan beku ultrabasa dan merupakan penyusun utama dari mantel bumi bagian atas.

Faktor yang penting pada komposisi mineral batuan beku adalah kandungan silica (SiO2). Persentase silica dalam batuan beku sangat bervariasi dan sebanding dengan kelimpahan mineral lainnya. Contohnya, batuan yang mengandung silica rendah, kandungan kalsium, besi dan magnesiumnya tinggi. Kandungan silica dalam batuan beku tergantung pada tipe dari batuan bekunya. Batuan beku granitic( asam) mempunyai kandungan silica yang lebih besar dari 66%, batuan beku andesitic(menengah) berkisar antara 55% - 66% batuan beku basaltic (Basa) berkisar antara 45% - 55%, dan batuan beku ultrabasa kurang dari 45%. Kandungan silica dalam magma juga akan mempengaruhi sifat dari magma tersebut. Magma granitic yang kandungan silica nya tinggi bersifat kental (Vicous) dan mempunyai titik beku (lebur) sekitar 800°C. Sedangkan magma basaltic bersifat encer dan titik bekunya (lebur) sekitar 1200°C atau lebih tinggi.

Batuan beku yang mempunyai komposisi mineral yang sama tidak selalu mempunyai nama yang sama. Jadi kenampakan sifat fisik (tekstur) merupakan dasar utama dalam pemberian nama dari pada komposisi mineral. Granit merupakan batuan intrusive yang bertekstur kasar, sedang batuan beku dengan komposisi mineral yang sama dengan granit tetapi tekstur halus mempunyai nama riolit.

Proses Terbentuk dan Macam Macam Awan

Jika langit sedang cerah, kita bisa melihat awan di langit. Awan tersebut terlihat seperti kapas-kapas yang sedang terbang di langit. Jika langit sedang cerah, maka awan akan terlihat berwarna putih. Sering kali kita lihat awan putih dengan berbagai bentuk. Kadang- kadang bergumpal-gumpal, kadang tersebar tipis, berbentuk seperti sisik ikan, atau bergaris-garis seperti serat. Sebentar terlihat bergumpal, tak lama kemudian berubah bentuk, bertebaran dibawa angin. 

Memang, bentuk awan selalu berubah-ubah mengikuti keadaan cuaca. Sering kali awan berbentuk indah bagaikan lukisan di langit. Lihatlah di puncak gunung yang tinggi, akan terlihat awan yang memayungi gunung itu. Sungguh indah bukan ? Itulah salah satu dari kekuasaan Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi beserta isinya ini. Lalu, kira-kira bagaimana ya awan itu terbentuk ? 

Jika matahari bersinar, cahayanya sampai di permukaan bumi, lantas diserap bumi, tumbuhan, tanah, sungai, danau dan laut, sehingga menyebabkan air menguap. Uap air naik ke udara atau atmosfer. Uap air naik semakin lama semakin tinggi karena tekanan udara di dekat permukaan bumi lebih besar dibandingkan di atmosfer bagian atas. Semakin ke atas, suhu atmosfer juga semakin dingin, maka uap air mengembun pada debu-debu atmosfer, membentuk titik air yang sangat halus berukuran 2 - 100 mm (1 mm = 1 / 1.000.000 meter). Tanpa adanya debu atmosfer, yang disebut aerosol , pengembunan tidak mudah terjadi. Miliaran titik-titik air tersebut kemudian berkumpul membentuk awan. 

Bentuk-bentuk Awan 

Bentuk awan bermacam macam tergantung dari keadaan cuaca dan ketinggiannya. Tapi bentuk utamanya ada tiga jenis yaitu, yang berlapis-lapis dalam bahasa latin disebut stratus , yang bentuknya berserat-serat disebut cirrus , dan yang bergumpal-gumpal disebut cumulus (ejaan Indonesia: stratus, sirus, dan kumulus). 

Di daerah rendah (kurang dari 3.000 m) yang terendah, awan stratus menutupi puncak gunung yang tidak terlalu tinggi. Di daerah rendah tengah, awan berbentuk strato-kumulus , dan yang dekat ketinggian 3.000 m awan berbentuk kumulus . Awan besar dan tebal di daerah rendah disebut kumulo-nimbus berpotensi menjadi hujan, menyebabkan terjadinya guruh dan petir. 

Awan pada ketinggian menengah dapat terbentuk di atas gunung yang tingginya lebih dari 3.000 m, membentuk payung di atas puncaknya. Misalnya di atas Gunung Ciremai (3.078 m), di puncak-puncak pegunungan Jaya Wijaya di Irian yang tingginya antara 4.000-5.000 m, bahkan selalu diliputi salju. Demikian juga Gunung Fuji (3.776 m) puncaknya selalu diliputi salju putih cemerlang sangat indah. Pada ketinggian menengah ini dapat terbentuk awan alto stratus yang berderet-deret, alto kumulus, dan alto-sirus.Bagaimana dengan awan di daerah tinggi (di atas 6.000 m)? Di sana terbentuk awan sirostratus yang tampak sebagai teja di sekitar matahari atau bulan. Juga terbentuk awan sirokumulus yang bentuknya berkeping keping terhampar luas. Juga dapat terbentuk awan sirus yang tipis bertebar seperti asap. 

Jenis-jenis awan 


Jenis-jenis awan



1. Stratus 
Letaknya rendah, berwarna abu-abu dan pinggirnya bergerigi dan menghasilkan hujan gerimis salju. 
2. Kumulus 
Letaknya rendah, tidak menyatu / terpisah-pisah. Bagian dasarnya berwarna hitam dan di atasnya putih. Awan ini biasanya menghasilkan hujan 
3. Stratokumulus 
Letaknya rendah, berwarna putih atau keabua-abuan. Bentuknya bergelombang dan tidak membawa hujan. 
4. Kumulonimbus 
Letaknya rendah sperti menara, berwarna putih dan hitam, membawa badai. 
5. Nimbostratus 
Letaknya tidak terlalu tinggi, gelap, lapisannya pekat, bagian bawah bergerigi serta membawa hujan atau salju. 
6. Altostratus 
Ketinggian sedang, awan berwarna keabu-abuan, tipis, mengandung hujan. 
7. Altokumulus 
Ketinggian sedang, putih atau abu-abu, bergulung-gulung atau melingkar seperti makaroni. 
8. Sirus 
Tinggi, putih atau sebagian besar putih seperti sutra tipis, bergaris-garis 
9. Sirostratus 
Tinggi, putih seperti cadar, bisa juga seperi untaian, luas menutupi langit 
10. Sirokumulus 
Tinggi, tebal, putih, terpecah-pecah, mengandung butir-butir es kecil. 

Ketinggian Awan 

Berikut ini adalah ketinggian jenis awan utama yang diukur dari bagian dasar 
1. Stratus, di bawah 450 m 
2. Kumulus, Stratokumulus dan Kumulonimbus berada di ketinggian 450 - 2000 m 
3. Nimbostratus, 900 - 3000 m 
4. Altostratus dan Altokumulus berada di ketinggian 2000 - 7000m 
5. Sirus, Sirostratus dan Sirokumulus berada di ketinggian 5000 - 13.500 m

Materi Geografi tentang Gempa Bumi

Gempa bumi adalah getaran/guncangan yang terjadi pada bumi sebagai akibat tumbukan antar lempeng, patahan/sesar aktif, aktivitas gunungapi, dan runtuhan batuan. Ilmu yang mempelajari tentang gempa bumi ialah SEISMOLOGI, alat yang digunakan untuk mendeteksi getaran gempa disebut SEISMOGRAF, dan hasil catatan gempa dinamakan SEISMOGRAM.

1. Jenis Gempa Bumi

Gempa bumi dapat dibagi berdasarkan penyebabnya :
  • Gempa bumi Vulkanik, bersumber dalam tubuh gunungapi aktif, pada umumnya berkekuatan kecil (maksimal 2 SR).
  • Gempa bumi Runtuhan, diakibatkan oleh runtuhan batuan di daerah kapur karena adanya stalaktit yang jatuh dalam gua kapur. Runtuhan di daerah tambang (runtuhnya terowongan tambang). Kekuatan gempa berkisar antara 2 - 3 SR.
  • Gempa bumi Tektonik, terjadi akibat aktivitas tektonik di zona batas antar lempeng dan patahanyang menagkibatkan sebaran getaran ke segala arah. Kekuatan gempa dapat mencapai skala besar hingga 9 SR (gempa di Aceh, 20 Desember 2004).

2. Sebaran Gempa Bumi

Gempa bumi dapat terjadi dimana saja, tapi hampir 80 % daerah di bumi ini yang sering terkena gempa ialah di daerah DAERAH CIRCUM-PACIFIC (circum-pacific belt). Daerah ini meliputi Cili (sepanjang batas sebelah barat Amerika Utara dan Selatan), ke arah utara di Aleutians, Alaska, Jepang, Pilipina, Indonesia, New Zealand, dan beberapa pulau tertentu di Kepulauan Pasifik. Daerah lain yang juga kerap mengalami gempa bumi (sekitar 15 % bumi ini) ialah MEDITERANIAN & TRANSASIATIC, meliputi daerah Karibia, Himalaya, Alpen, Spanyol, Itali, Yunani, dan India utara. Sisa yang 5 % tersebar di seluruh belahan bumi ini.

Daerah yang paling sering mengalami gempa ialah daerah Pantai Pasifik (Amerika Serikat), terutama di Kalifornia, dimana di daerah tersebut terdapat sebuah sesar aktif yang sangat terkenal ialah Sesar San Andreas, membentang sepanjang ratusan km melewati daerah Kalifornia, Montana, Utah, dan Nevada.

3. Jenis Gelombang Gempa Bumi

Para ahli seismologi membedakan jenis gelombang gempa bumi berdasarkan kecepatan rambatan dan arah getaran :
  • Gelombang P (Pressure wave), disebut juga gelombang tekanan, dapat, merambat di media padat dan cair, rambatan gelombangnya paling cepat.
  • Gelombang S (Shear wave), gelombang geser, merambat dengan cara menembus batuan.

4. Sumber/Pusat Gempa Bumi

Sumber gempa bumi dapat dijumpai di darat dan di bawah dasar laut.
  • Hiposenter, tempat trerjadinya gempa bumi yang berada di bawah permukaan bumi.
  • Episenter, adalah proyeksi hiposenter di permukaan bumi dinyatakan dalam koordinat geografis, biasanya ada keterangan jarak dan arah.
  • Kedalaman gempa bumi adalah jarak tegak lurus episenter ke sumber gempa bumi. Gempa dangkal (kedalaman < 33 km), gempa menengah (33-90 km), gempa dalam (> 90 km).

Pusat Gempa Bumi

Pusat Gempa Bumi

5. Intensitas dan Kekuatan Gempa Bumi

Tingkat kerusakan yang terasa pada lokasi terjadi gempa bumi disebut INTENSITAS GEMPABUMI. Angkanya ditentukan dengan menilai kerusakan yang dihasilkan, pengaruh pada benda, bangunan, tanah, dan akibat pada manusia.

Ukuran/parameter yang digunakan untuk mengetahui tingkat kerusakan ialah MMI (Modified Mercalli Intensity), diperkenalkan pada th. 1902 oleh Giuseppe Mercalli, atau WOOD-NEUMANN SCALE (digunakan di Amerika Serikat). Kisaran angka yang digunakan mulai dari I—XII, angka I berarti ringan, dapat dideteksi oleh alat, XII menunjukkan kerusakan sangat parah.

MAGNITUDA adalah parameter gempa yang diukur berdasarkan yang terjadi di daerah tertentu akibat goncangan pada sumbernya. Satuan yang digunakan ialah SKALA RICHTER (SR), diperkenalkan oleh Charles F. Richter pada th. 1934. Gempa bumi dengan kekuatan 8 skala richter setara dengan kekuatan bahan peledak TNT seberat 1 gigaton (1 milyar ton).

6. Mekanisme Terjadinya Gempa Bumi

Teori yang dapat menjelaskan tentang energi elastik yang dapat diterima adalah pergeseran sesar dan teori kekenyalan elastis (elastic rebound theory) dari H.F Rheid (1906). Teori ini menjelaskan jika permukaan bidang sesar saling bergesekan batuan akan mengalami deformasi (perubahan wujud) jika perubahan tersebut melampaui batas elastisitas/regangannya. maka batuan akan patah (rupture) dan akan kembali ke bentuk asalnya (reboud).

7. Dampak Gempa bumi

Kerusakan akibat adanya gempa bumi :
  • Tembok bangunan retak, bahkan runtuh
  • Bergesernya jalan raya, jalan kereta api
  • Runtuhnya jembatan
  • Retakan yang besar di tanah/daratan
  • Pergerakan/perubahan muka air laut

Pada th. 1556 terjadi gempa bumi yang sangat hebat di Cina yang menelan korban jiwa sekitar 830.000 orang. Gempa bumi selain menelan korban jiwa, bangunan, jalan raya, juga mengakibatkan dampak pada tatanan geologi seperti longsor, gerakan tanah, aliran lumpur, gangguan/kekacauan pada sirkulasi airtanah, amblasan dan pecahnya daratan. Gempa bumi yang sumbernya di laut sering menyebabkan terjadinya TSUNAMI (gelombang (gempa) laut, seismic sea waves).

9. Skala Intensitas Modified Mercalli

  • Skala I : Tidak dapat dirasakan orang, kecuali dalam keadaan luar biasa.
  • Skala II : Terasa oleh orang yang sedang beristirahat atau yang berada di lantai atas gedung bertingkat.
  • Skala III : Terasa di dalam gedung. Alat-alat gantung bergoyang. Getaran tanah seperti efek truk kecil lewat. Lama getarannya dapat ditaksir. Tidak disadari bahwa itu adalah gempa.
  • Skala IV : Alat gantung bergoyang. Getaran seperti efek truk besar lewat, atau seperti dinding tiba-tiba ditabrak sebuah massa besar. Mobil-mobil bergoyang. Jendela, piring, pintu geme-rincing.
  • Skala V : Terasa di luar bangunan. Arah goncangan dapat ditaksir. Orang tidur terbangun. Alat-alat kecil yang labil berpindah tempat atau roboh. Pintu bergoyang, gantungan potret dan jendela yang tertutup gemerincing. Bandul jam berhenti dan berjalan lagi dengan berubah kecepatannya.
  • Skala VI : Terasa oleh semua orang. Banyak yang takut dan mencari jalan ke luar. Orang tidak dapat berjalan denga tetap. Jen-dela, piring, barang dari kaca pecah. Perkakas berpindah tempat atau jatuh. Alat-alat dan buku terlempar dari raknya, potret terlepas dari gantungannya. Plester bermutu rendah dan tembok retak. Lonceng gereja berbunyi. Terlihat goncangan pohon dan dedaunan.
  • Skala VII : Orang sulit berdiri, goncangan terasa oleh supir mobil. Per-kakas rumah tangga rusak. tembok rusak, cerobong asap mutu rendah pecah pada bagian atasnya, plester berjatuhan, genting dan hiasan arsitek lepas. Tembok sedikit retak, air kolam menjadi keruh, tanah longsor kecil, pasir dan kerikil runtuh pada bagian tepi. Bel besar berbunyi, parit dan irigasi rusak.
  • Skala VIII : Sulit mengemudikan mobil. Tembok rusak dan sebagian runtuh. Sedikit kerusakan terhadap tembok, sedangkan tidak rusak. Cerobong, monumen dan menara terpuntir atau jatuh. Fondasi bermutu jelek terpisah. Cabang sobek dari pohonnya, bila tidak ada hubungan rumah bergeser dari fon-dasinya.
  • Skala IX : Kegugupan umum. tembok hancur, tembok rusak berat dan sering runtuh sama sekali, tembok rusak cukup berat. Umumnya fondasi bangunan rusak. rangka struktur bangunan terpuntir. Permukaan tanah retak cukup besar. Bangunan rangka terpisah dari fondasinya bila tidak memiliki hubungan. di dekat sungai terjadi letusan pasir dan lumpur.
  • Skala X : Bangunan tembok dan rangka hancur beserta fondasinya. Beberapa bangunan kayu dan jembatan bermutu baik runtuh. Tanggul besar dan dam rusak berat. Tanah longsor besar, pada daerah yang rata pasir dan lumpur bergeser. Rel kereta api sedikit membengkok.
  • Skala XI : Rel kereta api bengkok, pipa saluran rusak berat tidak dapat digunakan.
  • Skala XII : Kerusakan hampir menyeluruh. Batu besar bergeser, penglihatan kabur.

Proses Terbentuknya Angin

Seperti kita ketahui, angin adalah udara yang bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Angin berhembus dikarenakan beberapa bagian bumi mendapat lebih banyak panas matahari dibandingkan tempat yang lain. Permukaan tanah yang panas membuat suhu udara di atasnya naik. Akibatnya udara mengembang dan menjadi lebih ringan. Karena lebih ringan dibanding udara disekitarnya, udara akan naik. Begitu udara panas tadi naik, tempatnya segera digantikan oleh udara disekitarnya, terutama udara dari atas yang lebih dingin dan berat. Proses ini terjadi terus menerus. Akibatnya kita bisa merasakan adanya pergerakan udara atau yang kita sebut angin. 

Proses pembentukan angin

Proses pembentukan angin.

Angin dan Tekanan udara

Berat udara di atas permukaan tanah menghasilkan daya tekan ke bumi. Inilah yang disebut tekanan udara. Udara yang mengembang menghasilkan tekanan udara yang lebih rendah. Sebaliknya, udara yang berat menghasilkan tekanan yang lebih tinggi. 

Angin bertiup dari tempat yang bertekanan tinggi menuju ke tempat yang bertekanan rendah. Semakin besar perbedaan tekanan udaranya, semakin besar pula angin yang bertiup. Rotasi bumi membuat angin tidak bertiup lurus. Rotasi bumi menghasilkan Coriolis force yang membuat angin berbelok arah. Dibelahan bumi utara, angin berbelok ke kanan, sedangkan di belahan bumi selatan angin berbelok ke kiri. 

Untuk keperluan ilmu pengetahuan, khususnya mengenai Metereologi dan geofisika diperlukan suatu alat yang dapat mengukur kecepatan angin dan mengukur tekanan udara. Alat tersebut sudah ada. Alat untuk mengukur kecepatan angin disebut "Anemometer" dan Alat untuk mengukur tekanan udara disebut "Barometer".

Penjelasan tentang Gas Alam dan Minyak Bumi

Minyak dan gas bumi merupakan istilah Indonesia yang pemakaiannya telah mendarah daging pada kita. Sebelumnya, kita lebih banyak menggunakan istilah minyak tanah yang berarti minyak yang berasal dari dalam tanah untuk mendefenisikan arti minyak bumi/minyak mentah. Selain itu, istilah gas bumi yang dalam bahasa Inggris disebut Earth Gas juga tidak banyak digunakan.
Istilah yang lazim digunakan pada masyarakat kita untuk mendefenisikan gas bumi adalah Liquid Petroleum Gas (LPG). Dengan diketahuinya bahwa minyak bumi terdapat bersama-sama dengan gas bumi, maka istilah yang lazim yang digunakan sekarang adalah minyak dan gas bumi. 

Menurut Undang-Undang No. 44 Prp. Tahun 1960 Tentang : Pertambangan Minyak Dan Gas Bumi, yang dimaksud dengan minyak dan gas bumi ialah bahan-bahan galian minyak bumi, aspal, lilin bumi, semua jenis bitumen baik yang padat maupun yang cair dan semua gas bumi serta semua hasil-hasil pemurnian dan pengolahan bahan-bahan galian antrasit dan segala macam batu bara, baik yang tua maupun yang muda.

A. Kepentingan Minyak dan Gas Bumi dalam Peradaban 

Sebelum akhir tahun 1973 pentingnya minyak dan gas bumi sebagai bahan galian tidaklah terlalu terasa. Penurunan produksi minyak bumi telah mengakibatkan timbulnya krisis di seluruh dunia dan memberikan pengaruh politik ataupun ekonomi. 

Dari sini dapat dilihat,bahwa minyak bumi merupakan salah satu sumber kekayaan yang sangat penting,yang berpengaruh ataupun yang merupakan salah satu faktor peradaban manusia. Minyak bumi mempunyai peranan khusus karena bukan semata-mata bersifat bahan galian,tetapi juga berupa bahan bakar. Jadi merupakan sumber energi yang penting. 

Adapun sumber energi yang lazim kita kenal pada saat ini selain minyak dan gas bumi antara lain : 
  1. Arang dan Kayu
  2. Batubara
  3. Sumber Hidro-Listrik 
  4. Energi Nuklir
  5. Energi Matahari 
  6. Energi Panas Bumi (Geothermal)

B. Keunggulan Minyak dan Gas Bumi Sebagai Sumber Energi 

Minyak dan gas bumi,terutama minyak bumi,mempunyai keunggulan daripada sumber energi lainnya yang telah diutarakan di atas. Keunggulan tersebut disebabkan karena berbagai sifat fisika tertentu dari minyak dan gas bumi,yaitu antara lain: 
  1. Sifat cair minyak bumi.
  2. Minyak dan gas bumi memiliki nilai kalor yang tinggi.
  3. Minyak dan gas bumi menghasilkan berbagai macam bahan bakar.
  4. Minyak dan gas bumi menghasilkan berbagai macam pelumas. 
  5. Minyak dan gas bumi dapat bersifat sebagai bahan baku, yaitu bahan petrokimia.

C. Beberapa Pokok Kebijaksanaan dalam Penggunaan Minyak Bumi Sebagai Sumber Energi 

Dalam pemanfaatan minyak dan gas bumi kita perlu memperhatikan tiga pokok kebijaksanaan sebagai berikut :

1. Kenyataan bahwa minyak bumi merupakan bahan dapat habis (exhaustible) atau dapat dikatakan tidak dapat diperbaharui kembali. 
Hal ini mengandung arti bahwa eksplorasi minyak bumi harus terus menerus dilakukan, selain itu harus pula ditentukan garis besar kebijaksanaan mengenai pengelolaan energy yaitu bahwa untuk setiap barrel minyak yang diproduksikan secara minimal haruslah diikuti dengan penemuan satu barrel minyak pada kegiatan eksplorasi. Jadi pihak manapun atau Negara manapun haruslah memegang suatu kebijaksanaan bahwa eksplorasi harus terus menerus dilakukan bukan semata-mata hanya untuk menembah jumlah cadangan tetapi juga untuk mengganti cadangan yang telah diproduksi. 

2. Konsumsi minyak bumi terus-menerus meningkat.
Kita ketahui bersama bahwa peradaban atau kehidupan manusia sangat tidak bisa lepas dari kebutuhan akan minyak dan gas bumi, baik itu dinegara yang sedang berkembang apalagi Negara-negara maju. Untuk itu kebijakan ini haruslah dijadikan pedoman baik itu Negara penghasil minyak maupun Negara konsumen. Untuk Asia Tenggara misalnya, jika dewasa ini produksi Indonesian berlebihan mungkin saja ditahun-tahun yang akan datang karena meningkatnya permintaan akan minyak bumi mengakibatkan Negara ini akan mengimpor dari Negara luar kecuali jika ia mampu mempertinggi produksi dan memperbesar cadangan minyaknya.

3. Kebijaksanaan harus juga didasarkan pada tidak meratanya sumber daya minyak bumi di seluruh dunia.
Hal ini bukan saja di seluruh dunia melainkan pada suatu lingkup wilayah yang lebik kecil misalnya suatu Negara maka keberadaan minyak atau penyebarannya juga tidak merata. Kita ambil contoh di Negara Indonesia yang juga termasuk salah satu Negara penghasil minyak, tidak semua wilayahnya mempunyai kandungan minyak. Dari masa lampau hingga sekarang tidak meratanya penyebaran minyak bumi telah menyebabkan politik ekspansi. Banyak Negara berusaha untuk menguasai suatu wilayah yang kaya akan kandungan minyak bukan ditinjau dari segi militer tetapi segi politik ekonomi. Jadi apabila suatu Negara ingin maju maka Negara itupun harus mengamankan persediaan minyaknya dengan perencanaan untuk waktu yang cukup lama.

D. Minyak Bumi Sebagai Zat Unik dalam Kerak Bumi 

Minyakbumi merupakan suatu zat yang unik di dalam kerak bumi yang sebetulnya serba padat disamping air. Keunikan tersebut dapat kita perinci sebagai berikut : 
  1. Sifatnya yang cair membedakannya dengan zat lain disekitarnya,kecuali air. 
  2. Sifatnya yang cair menyebabkan geologi sejarah minyakbumi pun berlainan dari kerak bumi sendiri. 
  3. Susunan kimia minyakbumi juga berbeda dengan kerak bumi. 
  4. Secara kimia minyakbumi mempunyai hubungan erat dengan zat organik sehingga batuan sedimen merupakan habitat minyak dalam kerak bumi.

E. Ruang Lingkup Geologi Minyak dan Gas Bumi 

Sebagaimana yang telah diuraikan di atas bahwa minyak bumi dan batu bara merupakan bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil bersifat organik, maka sangatlah erat hubungannya dengan batuan sedimen. Selain itu, kita dapat melihat pula hubungan yang sangat erat antara bijih-bijih dengan berbagai bahan baku seperti logam dan sebagainya, yang pada umumnya berhubungan dengan batuan beku dan sedimen. Dengan demikian, kita dapat melihat perbedaan yang menyolok antara bahan bakar yang berhubungan dengan batuan sedimen di satu pihak dan di pihak lain bahan baku yang berhubungan erat dengan batuan beku dan metamorf. Berdasarkan kenyataan di atas, kita dapat membedakan dua bidang utama dalam ilmu geologi, yaitu : 
  • Geologi Batuan Keras (hard-rock geology), yaitu bidang geologi yang khusus mempelajari bijih-bijih logam yang berhubungan erat dengan dengan batuan kristalin atau batuan beku dan metamorf. Bidang ini sering digolongkan dalam Geologi Ekonomi.
  • Geologi Batuan Lunak (soft-rock geology), yaitu bidang yang mempelajari batuan sedimen, terutama untuk mencari minyak dan batu bara yang erat hubungannya dengan batuan sedimen. Geologi Batuan Lunak juga disebut sebagai Geologi Bahan Bakar (fuel geology). 

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa ruang lingkup geologi minyak dan gas bumi ini merupakan pengkajian dari batuan sedimen dan semua faktor yang menentukan cara terdapatnya, penyebarannya dan cara berakumulasinya minyak dan gas bumi di dalam kerak bumi.

Sejarah Perkembangan Industri Minyak Dunia

Di dalam sejarah manusia, minyak bumi pertama kali ditemukan atau dikenal orang di Timur Tengah, di Iran atau Parsi Kuno yang juga dikenal sebagai daerah Mesopotamia, minyak bumi mula-mula dikenal sebagai rembasan dan sumber yang terdapat di permukaan bumi. Nabi Nuh as yang diperkirakan hidup di daerah ini adalah manusia yang mungkin pertama kali memanfaatkan minyak bumi (dalam hal ini aspal) untuk melapisi perahunya agar tidak kemasukan air. 
Di zaman Harun Al-Rasyid, minyak bumi juga telah dikenal dan digunakan sebagai pembakar yang dinamakan naptha. Hal ini terjadi jauh sebelum perkembangan minyak bumi modern timbul. Pada zaman Cina Kuno bahkan telah dikenal industri pengusahaan minyak bumi dan menurut catatan sejarah, orang Cina bahkan telah mencoba membor minyak bumi sejak zaman sebelum masehi.

Industri minyak bumi yang modern muncul di Amerika Serikat pada abad ke-19, yang segera disusul oleh beberapa negara Eropa dan bagian dunia lainnya. Sebelum ditemukan pengusahaannya secara komersiil, minyak bumi telah dikenal di Amerika Serikat sebagai rembasan yang muncul dari permukaan bumi, semula sering dianggap sebagai barang aneh dan juga diperjual belikan sebagai obat. Namun, Jauh sebelum minyak bumi digunakan dalam industri, Haquet pada tahun 1794 telah mengemukakan teorinya bahwa minyak bumi berasal dari daging ataupun zat organik lainnya, seperti kerang atau moluska. Hal ini dikemukakan karena batuan yang mengandung minyak biasanya mengandung fosil binatang laut. 

Pada tahun 1805, Von Humbold dan Gay Lussac mengira bahwa minyak bumi berhubungan dengan aktivitas gunung api, seperti gunung venesius. Ide serupa dikemukakan pula oleh ahli geologi Perancis Virlet d’Aoust pada tahun 1834. Teorinya didasarkan pada gejala bahwa seringkali minyak bumi ditemukan bersamaan dengan lumpur gunung api.

Pada tahun 1842, Sir William Logan, direktur Jawatan Geologi Kanada menghubungkan terdapatnya rembasan minyak dengan struktur antiklin, seperti di pulau Gespe yang terdapat di sungai St. Lawrence. Pada tahun 1847 di Glasgow Inggris untuk pertama kali mengolah minyak bumi menjadi minyak lampu yang menggantikan lilin yang merupakan sumber penerangan utama pada saat itu. Sejak saat itu, minyak menjadi bahan yang banyak dicari oleh pengusaha. Hal ini menimbulkan ide bagi Kolonel William Drake untuk membor minyak yang dapat diproduksikan secara komersiil. 

Tahun 1859 merupakan saat bersejarah yang sangat penting, yaitu saat permulaan timbulnya industri minyak. Pengeboran dilaksanakan di Titusville, negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat, dan minyak berhasil ditemukan serta di produksikan dari kedalaman 69 kaki. Pemboran dilakukan di dekat suatu rembasan atau sumber minyak bumi ,dan ternyata dapat dihasilkan produksi yang lebih besar daripada yang keluar dari rembasan. Sejak saat itulah pemboran merupakan satu-satunya cara untuk mengexploitasi dan mengexplorasi minyak bumi secara komersiil. 

Pada tahun 1860, Henry D. Rogers mengemukakan bahwa akumulasi minyak bumi terdapat pada sumbu antiklin. B.B Andrews mengemukakan pula terdapatnya minyak dan gas bumi sepanjang sumbu antiklin di dekat Cairo, di nagara bagian Virginia Barat. Akan tetapi diterangkannya bahwa akumulasi minyak dan gas bumi merupakan hasil retakan yang terjadi di atas sumbu antiklin yang batuannya telah dihancurkan oleh pengangkatan dan pelipatan. Prof. Alexander Winchell dari Universitas Michigan pada tahun 1960 berpendapat bahwa batu pasir sendiri cukup mempunyai porositas untuk mengandung minyak tanpa adanya retakan.

Pada tahun 1861 Sterry Hunt menyatakan secara resmi Teori Antiklin dalam suatu ceramah di Montreal, Canada dan dipublikasikan dalam suatu majalah bernama “Montreal Gazette” pada tanggal 1 Maret 1861. I.C White adalah ahli geologi pertama yang berani mendemonstrasikan kebenaran Teori Antiklin unuk akumulasi minyak dan gas bumi, dan mendatangi suatu lapangan dan menunjukkan lokasi pada struktur tersebut dengan berhasil. 

Pada tahun 1889, E. Orton memeberikan suatu karya lengkap mengenai geologi minyak dan gas bumi, dimana antara lain ia berkesimpulan bahwa minyak bumi berasal dari zat organik. Pada tahun 1987 dimulailah pencarian minyak bumi oleh perusahaan Southern Pacific Oil Company. Pada awal abad ke-20, perusahaan minyak bumi Amerika Serikat telah mempunyai bagian geologi sebagai “Exploration Departement”. Pada tahun 1917 para ahli geologi Amerika mendirikan “The American Association of Petroleum Geologist” yang mengkhususkan diri pada pencarian minyak dan gas bumi.

Metode Eksplorasi Minyak Bumi

Menjelang abad ke-20, atau sekitar 50 tahun setelah penemuan sumber minyak yang pertama di Amerik Serikat, sedikit sekali bantuan teknik yang diberikan untuk penentuan lokasi pomboran. Minyak biasanya ditemukan dengan membor dekat rembasan atau indikasi permukaan, malahan kadang- kadang dilakukan pemboran secara membabi buta. 
Pada tahun 1912, para ahli geologi mulai melakukan perpetaan singkapan untuk penentuan tempat pemboran yang paling baik. Penelitian ini memberikan hasil yang sangat menggembirakan dan dalam waktu beberapa tahun saja sumber minyak telah dibor sampai kedalaman yang yang dapat dicapai oleh alat pembor, sekitar 1000 sampai 1300 meter dengan menggunakan bor tumbuk (cable tool). 

Pada tahun 1921, metoda pemboran putar (rotary-drilling) pertama kali dipergunakan di lapangan minyak Spindletop di Texas. Dengan ditemukannya baja yang lebih baik, metode pemboran cara putar diperbaiki dan awal tahun 20-an cara ini merupakan metoda utama untuk pemboran sumur yang dapat menjangkau 1500-2000 meter di bawah permukaan bumi. Pada permulaan tahun 1920, para ahli geologi telah memulai metode eksplorasi bawah permukaan. Pemboran inti dan penggalian sumur telah digunakan untuk mencari lapisan penunjuk yang dapat dipetakan di bawah permukaan. Paleontologi terutama mikropaleontologi digunakan untuk mencari korelasi lapisan beberapa sumur. Adanya penelitian mengenai mineral berat di bawah permukaan juga membantu mencari korelasi lapisan beberapa sumur. 

Perkembangan paling penting dalam pencarian minyak bumi adalah ditemukannya berbagai cara geofisika, yang oleh industri minyak Amerika mulai dipergunakan pada pertengahan tahun 20-an. Metoda yang pertama kali adalah metoda seismik refraksi yang dikembangkan oleh beberapa ahli jerman pada tahun 1923 di New Mexico untuk memetakan suatu patahan (zona patahan), tanpa memberikan hasil. Setelah dilakukan berbagai perbaikan berhasillah mereka melokalisir suatu kubah garam yang pertama di daerah Gulf-Coast pada tahun 1924. Setelah itu ditemukan juga banyak kubah lainnya dalam waktu yang sangat pendek. 

Pada tahun 1929 metoda seismik refleksi dikembangkan oleh para ahli Amerika. Ternyata kedalaman tegak yang dapat dijangkau dengan cara ini dapat mencapai ribuan kaki. Penggunaan cara ini memberikan hasil sangat menakjubkan. Pada tahun 1923, bersamaan waktunya dengan dimasukkannya cara seismik refraksi (bias), suatu prinsip pencarian minyak bumi yang lain diimpor dari Eropa ke Amerika, yaitu metoda gravitasi. Alat yang dipergunakan ialah neraca puntir (torsion balance), suatu penemuan Hongaria tahun 1890. Ternyata metoda ini juga memberikan hasil yang besar dalam pencarian kubah garam di daerah Gulf-coast, tetapi kurang berhasil untuk daerah pegunungan. 

Gravimeter jenis lainnya dikembangkan di berbagai laboratorium Amerika menjadi suatu alat yang cukup baik dan masih dipergunakan dewasa ini. Juga pada permulaan tahun duapuluhan metoda magnetik dikembangkan. Metoda tersebut ditemukan dan dikembangkan di Jerman dan ternyata merupakan metoda yang sangat baik. 

Pada tahun 1950 pertama kali helikopter dipergunakan untuk menunjang explorasi seismik di Irian Jaya. Pada tahun 1958 pertama kali dilakukan pemboran dengan menggunakan helikopter sebagai alat angkut, juga di Irian Jaya, pada pemboran sumur Wapili di pulau Salawati. Pada tahun 1960 dimulai explorasi seismik secara besar-besaran di lepas pantai. Dalam tahun 60-an terjadi kemajuan luar biasa dalam penggunaan cara seismik. Pita rekaman mulai digunakan untuk pencatatan. Metoda pengolahan data seismik secara elektronik juga telah mulai menggunakan komputer. Menjelang akhir tahun 60- an dikembangkan pula cara yang dinamakan penginderaan jauh (remote sensing).

Perkembangan Industri Minyak Bumi Indonesia

A. Perkembangan Industri Minyak Sebelum Perang Kemerdekaan 

Minyak bumi telah dikenal rakyat Indonesia sejak abad pertengahan, misalnya penggunaan minyak bumi oleh orang Aceh untuk memerangi armada Portugis. Industri minyak bumi modern di Indonesia dimulai pada tahun 1871 yaitu usaha pemboran pencarian minyak bumi untuk yang pertama kali di Desa Maja, Majalengka, Jawa Barat, oleh seorang pengusaha asal Belanda bernama Jan Reerink. Namun usaha pemboran yang dilakukan di dekat suatu rembasan akhirnya mengalami kegagalan. 
Penemuan sumber minyak yang pertama di Indonesia ialah pada tahun 1883, yaitu dengan ditemukannya lapangan minyak Telaga Tiga dan Telaga Said di dekat Pangkalan Brandan di Sumatera Utara oleh seorang Belanda bernama A.G Zeijlker. Penemuan ini disusul oleh penemuan lain, yaitu lapangan minyak di Pangkalan Brandan dan Telaga Tunggal. Pada waktu yang bersamaan juga ditemukan lapangan minyak Ledok di Cepu, Jawa Tengah. Minyak hitam di dekat Muara Enim di Sumatera Selatan, dan Riam Kiwa di daerah Sanga-Sanga di Kalimantan. Penemuan sumber minyak Telaga Said oleh A.G Zeijlker merupakan modal pertama bagi berdirinya suatu perusaaan yang dewasa ini dikenal dengan nama Shell. 

Menjelang akhir abad ke-19 terdapat 18 perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Pada tahun 1902 didirikan suatu perusahaan terbatas bernama Koninklijke Petroleum Maatschappij yang dimodali oleh penemuan A.G Zeijlker di Sumatera utara tersebut. Kemudian perusahaan ini bergabung dengan Shell Transport Trading Company dan dilebur menjadi satu perusahaan yang dinamakan The Asiatic Petroleum Company atau Shell Petroleum Company. Pada tahun 1907 didirikan Shell Group yang terdiri dari Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) dan Anglo Saxon.

Pada tahun 1912 perusahaan Amerika mulai masuk ke Indonesia dengan mendirikan perusahaan N.V Standard Vacuum Petroleum Maatschappij yang mempunyai cabang di Sumatera Selatan bernama Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij (NKPM) yang setelah peran kemerdekaan berubah menjadi P.T Stanvac Indonesia. Perusahaan ini menemukan lapangan minyak Pendopo pada tahun 1921 di Sumatera Selatan yang merupakan lapangan minyak terbesar di Indonesia pada saat itu. Untuk mengimbangi perusahaan Amerika yang masuk pada saat itu, pemerintah Belanda mendirikan perusahaan gabungan antara pemerintah dan Bataafsche Petroleum Maatschappij, yaitu Nederlandsche Indische Aardolie Maatschappij, yang setelah perang dunia II menjadi P.T Permindo dan kemudian pada tahun 1961 menjadi P.N Pertamina.

Pada tahun 1920 masuk dua perusahaan Amerika yang baru yaitu Standard Oil of California dan Texaco, yang pada tahun 1930 membentuk Nederlandsche Pacific Petroleum Mij (NPPM) dan sekarang telah mejelma menjadi P.T Caltex Pasifik Indonesia. Perusahaan ini mengadakan eksplorasi secara besar- besaran pada tahun 1935 di Sumatera Tengah dan menemukan lapangan minyak Sebangga pada tahun 1940 serta lapangan minyak Duri tahun 1941. Di daerah konsesi perusahaan ini, tentara Jepang menemukan lapangan minyak raksasa Minas pada tahun 1944 dan dibor kembali oleh Caltex pada tahun 1950. 

Pada tahun 1935 untuk mengeksplorasi minyak bumi di Irian Jaya dibentuk sebuah perusahaan gabungan antara BPM, NPPM, NKPM, dan satu anak perusahaan diberi nama Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Mij (NNGPM) dengan hak mengadakan eksplorasi minyak bumi selama 25 tahun. Pada tahun 1938 lapangan minyak klamono ditemukan, disusul dengan lapangan minyak Wasian, Mogoi, dan Sele. Namun, perusahaan ini tidak berhasil menemukan lapangan minyak yang berarti, dan pada tahun 1960 diserahterimakan kepada perusahaan SPCO dan kemudian diambil alih oleh Permina pada tahun 1965. Ini adalah perkembangan industri minyak sebelum perang kemerdekaan.

B. Sejarah Metoda Eksplorasi di Indonesia 

Di Indonesia pencarian minyak dilakukan mula-mula oleh Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) yang pada waktu itu bernama Koninklijke. Pada saat perusahaan ini mulai beroperasi di Indonesia disewanya dua orang ahli geologi yaitu Dr. C. Porro dan Dr. C. Schmidt yang kemudian menjadi guru besar dalam ilmu geologi di Brussel. Pada awalnya hanya dilakukan pemetaan geologi permukaan dengan mengadakan eksplorasi di sepanjang sungai unuk mencari singkapan, dan kemudian dilakukan pemboran. Para ahli geologi membuat peta geologi berdasarkan singkapan, terutama peta sruktur, dan kemudian dilakukan suatu prognase dan pemboran eksplorasi. Hingga perang dunia I eksplorasi sampai beribu meter merupakan suatu hal yang luar biasa. Pada tahun 1910 mulai dilakukan pemboran inti dan pada tahun 1918 dilakukan pemboran spiral tangan. Pemboran geologi yang lebih dalam menggunakan mesin berbahan bakar bensin.

Pada tahun 1920 metode baru mulai dimasukkan di Indonesia yaitu metode geofisika. Metode geofisika yang pertama kali digunakan adalah metode gravitasi dan metode seismik, kedua metode ini dilakukan oleh Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) dalam eksplorasi minyak bumi. Namun, secara luas metode gravitasi digunakan di Indonesia pada tahun 1924 setelah berhasil baik di Amerika dan penggunaan metode seismik dilakukan di Indonesia sejak tahun 1937. Permulaan pemakaian log pertama kali dilakukan oleh Perusahaan Schlumberger bersamaan dengan penerapan mikropaleontologi di Indonesia. 

Metode pemetaan udara dilakukan pertama kali di Indonesia pada tahun 1932, yaitu di Sumatera Selatan dan kemudian di Sumatera Utara pada tahun 1934. Pemetaan dilakukan oleh angkatan darat Hindia-Belanda dengan skala 1 : 10.000. Pada tahun itu pula dilakukan pemetaan udara secara besar-basaran di Kepala Burung, Irian Jaya. Pemetaan udara berlangsung dari tahun 1935- 1937. Pemetaan udara sangat membantu dalam interpretasi geologi daerah tersebut. Pemetaan udara berikutnya dilakukan pada tahun 1938 di Kalimantan.

C. Perkembangan Industri Minyak Setelah Perang Kemerdekaan 

Pada revolusi fisik tahun 1945-1950 terjadilah pengambilalihan semua instalasi minyak oleh Republik Indonesia. Pada tahun 1945 didirikan P.T Minyak Nasional Rakyat yang pada tahun 1954 berubah menjadi Perusahaan Tambang Minyak Sumatera Utara. Pada tahun 1957 didirikan P.T Permina oleh 
Kolonel Ibnu Sutuwo yang kemudian menjadi P.N Permina pada tahun 1960. 

Pada tahun 1959 Nederlandsche Indische Aardolie Maatschappij menjelma menjadi P.T Permindo yang kemudian pada tahun 1961 menjadi P.N Pertamin. Pada waktu itu juga di Jawa Timur dan Jawa Tengah telah berdiri Perusahaan Tambang Minyak Republik Indonesia yang kemudian menjelma menjadi P.N Permigan dan setelah tahun 1965 dilikuidasi dan diambillah oleh P.N Permina. Pada tahun 1961 sistem konsesi perusahaan asing dihapuskan dan diganti dengan sistem kontrak karya. 

Pada tahun 1964 perusahaan SPCO diserahkan kepada P.N Permina. Tahun 1965 merupakan sejarah baru dalam perminyakan Indonesia dengan dibelinya seluruh kekayaan Bataafsche Petroleum Maatschappij – Shell oleh P.N Permina. Pada tahun itu seluruh wilayah Indonesia merupakan daerah konsesi P.N Permina dan P.N Pertamin dan dimulainya sistem kontrak bagi hasil (production sharing). Perusahaan asing hanya bisa bergerak sebagai kontrakor saja dengan hasil produksi minyak dibagikan dan bukan dalam bentuk pembayaran royalti. 

Sejak tahun 1967 eksplorasi besar-besaran dilakukan oleh P.N Pertamin dan P.N Permina baik di darat maupun di laut yang bekerja sama dengan kontrakor asing. Tahun 1966 P.N Pertamin dan P.N Permina digabung menjadi P.N Pertamina yang kemudian merupakan satu-satunya perusahaan minyak nasional. Tahun 1969 merupakan tahun yang sangat penting karena ditemukannya lapangan minyak lepas pantai (lapangan minyak Arjuna) di dekat Pamanukan Jawa Barat dan tidak lama kemudian ditemukan pula lapangan minyak Jatibarang oleh Pertamina. Pada tahun 1970 menyusul dengan ditemukannya lapangan minyak Kasim di Irian Jaya di daerah yang ditinggalkan oleh Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Mij (NNGPM) yang kemudian ternyata merupakan sumur dengan produksi yang paling besar, yaitu 20.000 barel/hari.

Macam Macam Perangkap Minyak Bumi dan Gas Alam

Dalam Sistem Perminyakan, memiliki konsep dasar berupa distribusi hidrokarbon didalam kerak bumi dari batuan sumber (source rock) ke batuan reservoar. Salah satu elemen dari Sistem Perminyakan ini adalah adanya batuan reservoir, dalam batuan reservoir ini, terdapat beberapa faktor penting diantaranya adalah adanya perangkap minyak bumi. Perangkap minyak bumi sendiri merupakan tempat terkumpulnya minyak bumi yang berupa perangkap dan mempunyai bentuk konkav ke bawah sehingga minyak dan gas bumi dapat terjebak di dalamnya. Perangkap minyak bumi ini sendiri terbagi menjadi perangkap stratigrafi, perangkap struktural, perangkap kombinasi stratigrafi- struktur dan perangkap hidrodinamik.

1. Perangkap Stratigrafi 

Jenis perangkap stratigrafi dipengaruhi oleh variasi perlapisan secara vertikal dan lateral, perubahan facies batuan dan ketidakselarasan dan variasi lateral dalam litologi pada suatu lapisan reservoir dalam perpindahan minyak bumi. Prinsip dalam perangkap stratigrafi adalah minyak dan gas bumi terperangkap dalam perjalanan ke atas kemudian terhalang dari segala arah terutama dari bagian atas dan pinggir, hal ini dikarenakan batuan reservoir telah menghilang atau berubah fasies menjadi batu lain sehingga merupakan penghalang permeabilitas (Koesoemadinata, 1980). Dan jebakan stratigrafi tidak berasosiasi dengan ketidakselarasan seperti Channels, Barrier Bar, dan Reef, namun berasosiasi dengan ketidakselarasan seperti Onlap Pinchouts, dan Truncations.

Contoh perangkap stratigrafi

Contoh perangkap stratigrafi

Pada perangkap stratigrafi ini, berasal dari lapisan reservoir tersebut, atau ketika terjadi perubahan permeabilitas pada lapisan reservoir itu sendiri. Pada salah satu tipe perangkap stratigrafi, pada horizontal, lapisan impermeabel memotong lapisan yang bengkok pada batuan yang memiliki kandungan minyak. Terkadang terpotong pada lapisan yang tidak dapat ditembus, atau Pinches, pada formasi yang memiliki kandungan minyak. 


Pada perangkap stratigrafi yang lain berupa Lens-shaped. Pada perangkap ini, lapisan yang tidak dapat ditembus ini mengelilingi batuan yang memiliki kandungan hidrokarbon. Pada tipe yang lain, terjadi perubahan permeabilitas dan porositas pada reservoir itu sendiri. Pada reservoir yang telah mencapai puncaknya yang tidak sarang dan impermeabel, yang dimana pada bagian bawahnya sarang dan permeabel serta terdapat hidrokarbon. Pada bagian yang lain menerangkan bahwa minyak bumi terperangkap pada reservoir itu sendiri yang Cut Off up-dip, dan mencegah migrasi lanjutan, sehingga tidak adanya pengatur struktur yang dibutuhkan. Variasi ukuran dan bentuk perangkap yang demikian mahabesar, untuk memperpanjang pantulan lingkungan pembatas pada batuan reservoir terendapkan.

2. Perangkap Struktural 

Jenis perangkap selanjutnya adalah perangkap struktural, perangkap ini Jebakan tipe struktural ini banyak dipengaruhi oleh kejadian deformasi perlapisan dengan terbentuknya struktur lipatan dan patahan yang merupakan respon dari kejadian tektonik dan merupakan perangkap yang paling asli dan perangkap yang paling penting, pada bagian ini berbagai unsur perangkap yang membentuk lapisan penyekat dan lapisan reservoar sehingga dapat menangkap minyak, disebabkan oleh gejala tektonik atau struktur seperti pelipatan dan patahan (Koesoemadinata, 1980).

a. Jebakan Patahan 

Jebakan patahan merupakan patahan yang terhenti pada lapisan batuan. Jebakan ini terjadi bersama dalam sebuah formasi dalam bagian patahan yang bergerak, kemudian gerakan pada formasi ini berhenti dan pada saat yang bersamaan minyak bumi mengalami migrasi dan terjebak pada daerah patahan tersebut, lalu sering kali pada formasi yang impermeabel yang pada satu sisinya berhadapan dengan pergerakan patahan yang bersifat sarang dan formasi yang permeabel pada sisi yang lain. Kemudian, minyak bumi bermigrasi pada formasi yang sarang dan permeabel. Minyak dan gas disini sudah terperangkap karena lapisan tidak dapat ditembus pada daerah jebakan patahan ini.

b.Jebakan Antiklin 

Kemudian, pada jebakan struktural selanjutnya, yaitu jebakan antiklin, jebakan yang antiklinnya melipat ke atas pada lapisan batuan, yang memiliki bentuk menyerupai kubah pada bangunan. Minyak dan gas bumi bermigrasi pada lipatan yang sarang dan pada lapisan yang permeabel, serta naik pada puncak lipatan. Disini, minyak dan gas sudah terjebak karena lapisan yang diatasnya merupakan batuan impermeabel.

Jebakan antiklin pada jebakan struktural

Jebakan antiklin pada jebakan struktural

c. Jebakan Struktural lainnya 

Contoh dari perangkap struktur yang lain adalah Tilted fault blocks in an extensional regime, marupakan jebakan yang bearasal dari Seal yang berada diatas Mudstone dan memotong patahan yang sejajar Mudstone. Kemudian, Rollover anticline on thrust, adalah jebakan yang minyak bumi berada pada Hanging Wall dan Footwall. Lalu, Seal yang posisinya lateral pada diapir dan menutup rapat jebakan yang berada diatasnya.

Contoh perangkap struktural yang lain

Contoh perangkap struktural yang lain

3. Perangkap Kombinasi 

Kemudian perangkap yang selanjutnya adalah perangkap kombinasi antara struktural dan stratigrafi. Dimana pada perangkap jenis ini merupakan faktor bersama dalam membatasi bergeraknya atau menjebak minyak bumi. Dan, pada jenis perangkap ini, terdapat lebih dari satu jenis perangkap yang membentuk reservoar. Sebagai contohnya antiklin patahan, terbentuk ketika patahan memotong tegak lurus pada antiklin. Dan, pada perangkap ini kedua perangkapnya tidak saling mengendalikan perangkap itu sendiri.

Contoh Perangkap Kombinasi

Contoh Perangkap Kombinasi

4. Perangkap Hidrodinamik


Contoh Perangkap Hidrodinamik

Contoh Perangkap Hidrodinamik

Kemudian perangkap yang terakhir adalah perangkap hidrodinamik. Perangkap ini sangat jarang karena dipengaruhi oleh pergerakan air. Pergerakan air ini yang mampu merubah ukuran pada akumulasi minyak bumi atau dimana jebakan minyak bumi yang pada lokasi tersebut dapat menyebabkan perpindahan. Kemudian perangkap ini digambarkan pergerakan air yang biasanya dari iar hujan, masuk kedalam reservoar formasi, dan minyak bumi bermigrasi ke reservoar dan bertemu untuk migrasi ke atas menuju permukaan melalui permukaan air. Kemudian tergantung pada keseimbangan berat jenis minyak, dan dapat menemukan sendiri, dan tidak dapat bergerak ke reservoar permukaan karena tidak ada jebakan minyak yang konvensional.
Defenisi dan Fisis Tanah

Defenisi dan Fisis Tanah

1. Definisi Tanah

Tanah (soil) merupakan kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara, dan merupakan media untuk tumbuhnya tanaman. Tanah dapat pula didefinisikan sebagai material yang terdiri dari agregat (butiran) mineral padat yang terikat secara kimia satu sama lain dengan ruang-ruang kosong antar butir yang diisi oleh zat cair dan gas. Menurut asal katanya, tanah dalam bahasa Yunani berarti pedon, dan dalam bahasa Latin berarti Solum merupakan bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. 

Pedologi sendiri adalah ilmu yang mempelajari proses pembentukan tanah & faktor pembentuknya, klasifikasi tanah, survei & cara pengamatan di lapangan. Serta ilmu yang mempelajari beberapa aspek tentang tanah disebut “ilmu tanah”. Sementara fisika merupakan ilmu yang mengkaji materi berdasarkan sifat dan prilaku fisisnya. Dengan demikian “fisika tanah” merupakan cabang dari ilmu tanah, yang didefinisikan sebagai Ilmu yang mempelajari sifat-sifat fisis tanah seperti tekstur tanah, struktur, konsistensi, kandungan & gerakan air di dalam tanah, serta suhu tanah, dan lain sebagainya. 

Fisika tanah dapat dipandang sebagai ilmu dasar sekaligus terapan dengan melibatkan berbagai cabang ilmu yang lain termasuk ilmu tanah, hidrologi, klimatolologi, ekologi, geologi, sedimentologi, botani dan agronomi. Cabang ilmu tanah selain fisika tanah masih terlalu banyak untuk dikaji, antara lain:
  • Kimia Tanah
  • Kesuburan Tanah
  • Konservasi Tanah & Air
  • Mikrobiologi Tanah 
  • Mineralogi Tanah
  • Genesis & Klasifikasi Tanah
  • Geografi Tanah
  • Survei Tanah & Evaluasi Tanah
Fisika tanah mengkaji tentang sifat-sifat fisis tanah dan morfologinya, klasifikasi dan komposisi tanah, air dalam tanah, konservasi air dan tanah, serta beberapa bagian mekanika tanah (yakni tegangan efektif dan kuat geser tanah, daya dukung dan konsolidasi tanah, likuifaksi, kestabilan lereng. Di sini juga dimasukkan metode Geofisika yang berkaitan dengan fisika tanah. 

Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di bumi karena tanah mendukung kehidupan tumbuhan dengan menyediakan hara dan air sekaligus sebagai penopang akar. Tanah berasal dari hasil pelapukan batuan bercampur dengan sisa-sisa bahan organik dan organisme (vegetasi/hewan) yang hidup di atasnya atau di dalamnya. Selain itu di dalam tanah terdapat pula udara dan air. Tanah terdapat di mana-mana, tetapi kepentingan orang- orang terhadap tanah berbeda-beda, diantaranya: 
  • Ahli tambang berpendapat bahwa tanah adalah sesuatu yang tidak berguna karena menutupi barang-barang tambang yang dicarinya. Semua bahan yang digali kacuali batu-batunya dinamakan tanah. 
  • Ahli jalan menganggap bahwa tanah adalah permukaan bumi yang lembek yang butuh penguatan. 
  • Masyarakat umum beda dengan dua kelompok yang di atas karena tanah diartikan sebagai wilayah darat yang dapat digunakan untuk berbagai usaha misalnya mendirikan bangunan, pertanian, peternakan, dan sebagainya.

2. Konsep Tanah 

Menelusuri lebih lanjut, ternyata ada beberapa konsepsi tentang tanah, antara lain: 

a. Tanah Menurut Konsepsi Geografis 

Tanah mempunyai ciri fisik yang saling berbeda di suatu bidang dengan bidang lainnya. Setiap bidang tanah itu sangat unik dan letak atau lokasi tanah itu merupakan sifat/ciri yang sangat penting. Kegunaan dan highest dan best use dari tanah akan sangat dipengaruhi oleh bentuk fisik dan letak atau lokasi serta akses menuju ke tanah tesebut, serta berbagai faktor lain yang mempengaruhi, yang secara singkat disebut geografi. 

b. Tanah Menurut Konsepsi Sosial 

Masyarakat modern telah semakin meningkatkan kepeduliannya dengan bagaimana tanah itu digunakan dan bagaimana hak atas tanah itu didistribusikan. Penawaran atau persediaan tanah itu sifatnya tetap, sehingga peningkatan permintaan atas tanah menghendaki agar penggunaan tanah itu lebih dapat diintensifkan. Pertikaian sering timbul karena adanya perbedaan pandangan dari masyarakat mengenai penggunaan atas tanah. Bagi yang mempunyai pandangan bahwa tanah itu mempunyai fungsi sosial yang harus digunakan bersama-sama oleh mereka yang membutuhkan, maka tanah akan dijaga agar tidak tercemar dan mempunyai fungsi sosial yang harus digunakan bersama-sama oleh mereka yang membutuhkan, maka tanah akan dijaga agar tidak tercemar dan mempunyai fungsi ekologis yang penting. Sedangkan kelompok lain berpandangan bahwa tanah adalah komoditas perdagangan sehingga masyarakat lebih bagus dibentuk dan dilayani oleh para individu yang mempunyai hak tak terbatas terhadap tanah. 

c. Tanah Menurut Konsepsi Ekonomi 

Tanah adalah entitas fisik yang melekat dengan hak kepemilikan yang berdasarkan hukum dapat dibatasi bagi kebaikan umat manusia. Tanah merupakan sumber utama bagi kekayaan, yang dapat dinilai dengan uang atau dipertukarkan dengan uang. Tanah dan apa yang dihasilkan mempunyai nilai ekonomis ketika dialihkan ke dalam barang dan jasa yang bermanfaat, sesuai dengan yang diinginkan dan dibayar oleh konsumen. Konsep ekonomi dari tanah sebagai sumber kekayaan dan obyek nilai merupakan pusat dari teori penelitian. 

d. Tanah Dalam Kacamata Hukum 

Hukum yang merupakan lembaga kemasyarakatan mencerminkan aspek budaya, politik, pemerintahan, ekonomi, sosiologis, dan filosofis masyarakatnya. Yang dimaksud dengan tanah itu tidak hanya permukaan tanah saja, akan tetapi juga meliputi semua kandungannya atau yang melekat padanya seperi mineral, pepohonan, bangunan, tanaman, dan sebagainya. Walaupun hak atas tanah di Indonesia diakui, namun sesuai dengan konstitusi kita maka semua kekayaan alam yang terkandung di dalamnya itu dikuasai oleh negara, sehingga apabila lahan yang dimiliki oleh seseorang mengandung mineral seperti minyak atau gas alam, maka hak untuk menguasai kekayaan tersebut ada pada negara, bukan perorangan.Dengan demikian, penggunaan hak yang dimiliki oleh sesorang itu dibatasi oleh hukum dan peraturan perundangan yang berlaku. 

e. Konsep atas Tanah di Masyarakat 

Penggunaan tanah diperoleh dari wewenang yang diberikan oleh organisasi kemasyarakatan. Di berbagai negara yang mempunyai sistem pemerintahan totaliter atau komunis, dimana kepemilikan dan pasar atas tanah tidak bebas diperjual belikan, pemerintah sering mengatur semua penggunaan dari tanah. Sebaliknya dalam suatu negara yang menganut ekonomi pasar bebas, maka penggunaan tanah diatur dalam undang-undang. Bagaimana berbagai kekuatan mempengaruhi tanah dan penggunaannya, maka kita harus mengerti peranan hukum tanah dan hukum lain seperti hukum adat yang juga mengatur tentang pertanahan.